Kamis, Desember 11, 2008

Berpikir Positif vs Negatif


Mari kita berkaca dari kisah berikut.....
(*kalo ada yg tahu cerita ini, boleh dong mengingatkan sumbernya darimana ya?)
dan maaf, diceritakan kembali berdasarkan ingatan yang mungkin sudah agak bias dari cerita aslinya, tapi mudah2an masih bisa diambil hikmahnya.....


Alkisah, ada seorang Bapak dengan seorang anaknya yang masih belia serta seekor unta miliknya berjalan di Padang Pasir yang panas. Dalam perjalanan mereka berpapasan dengan 2 orang yang salah satunya selalu berpikir positif, sedangkan satunya lagi berpikir negatif.

Kondisi # 1
Bapak dan Anak berjalan kaki beriringan dengan Unta mereka.
- Si Positif   : Luar biasa mereka, di panas terik begini mereka nggak menaiki untanya, rela berjalan kaki karena kasihan dengan sang unta.
- Si Negatif : Goblok bener mereka, ada unta kok masih jalan kaki.

Kondisi #2
Bapak jalan kaki, si Anak menunggang Unta.
- Si Postif   : Luar biasa Bapak itu, begitu sayang dengan anaknya, dia rela berjalan kaki dan anaknya yang naik unta agar tidak kelelahan.
- SI Negatif : Dasar anak gak tau diri, enak-enakan dia duduk di atas unta sedangkan Bapaknya capek2 berjalan kaki.

Kondisi # 3
Bapak menunggang unta, Anak jalan kaki.
- Si Positif   : Luar biasa Anak itu, begitu berbaktinya dia pada Bapaknya, dia rela berjalan kaki agar Bapaknya bisa naik unta dan tidak kelelahan.
- Si Negatif : Dasar orang tua egois, masak anaknya disuruh jalan kaki, sedang dia enak-enakan naik unta.

Kondisi # 4
Bapak dan Anak menunggang unta.

- Si Positif   : Nikmatnya hidup mereka, Bapak dan Anak pergi bersama-sama menunggang unta.
- Si Negatif : Gila! gak tau diri banget mereka, panas terik begini unta ditunggangi mereka berdua, berat kan.




Setiap kondisi selalu ada perbedaan pandangan, tergantung posisi kita saat memandangnya. Bagaimana dengan anda???



Mudah-mudahan kita selalu menjadi orang yang berpikiran positif. Amin.



Rabu, Desember 10, 2008

Hidup ini Pilihan, Bung..!

Biasalah obrolan gak penting menjelang pulang kerja...
Seperti biasa, keluhan-keluhan keluar dari moncong-moncong bagaikan suara klakson di macetnya Jakarta...
Mulai dari sibuknya menghadapi mahasiswa, jam kerja yang berlebihan, sistem yang gak jelas, sampai obrolan teranyar tentang Mpok Lea...


Keluhan yang sama pada 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun yang lalu...
Selalu, yang dikeluhkan keadaan....

Capek sih mendengarnya, cuma ya.... sebagai makhluk sosial, kadang perlu kita menerima bahan diskusi semacam ini....

Sebenarnya secara teori mudah saja....
Hidup ini pilihan, tinggal memilih apa yang kita kehendaki, dan pilihan yang ada untuk kondisi keluhan2 itu adalah:
  1. Melawan, dalam artian berusaha untuk merubah. Masalahnya apakah orang2 lain ingin kondisi seperti ini dirubah, apakah yakin orang2 lain merasakan keluhan yang sama?
  2. Apatis, ya sesukamulah.... kamu ingin gitu, ya saya gini aja.....
  3. Nikmati ajalah, kamu mau gitu, ya ayuukk... kamu mau gini, monggo..... enjoy ajalah, selama kamu hepi, gw gak terganggu.... dan gw hepi.
Namun ternyata, bagi mereka tak semudah itu memilih.....

Tapi kalo saya, saya sudah memilih, sekarang saya memilih untuk menikmati hidup ini, dengan suka dan dukanya, dengan susah dan senangnya, dengan sedih dan bahagianya, dengan stress dan damainya, dengan capek dan leganya.....


Kalau tak sanggup memilih..... diam sajalah!

Adakah yang peduli saat kita MATI ???

Hmmm......

pikiran ini terus berada di benak untuk beberapa saat, terpikir ketika hendak tidur dan membuat gw terbangun untuk menuliskannya...


Mpok Lea, sebutlah namanya begitu, beliau adalah seorang staf rumah tangga di kampus tempat gw bekerja.
Orangnya walaupun subur, tapi sangat gesit. Nggak pernah nolak atau bermalas-malas saat disuruh apapun.
Dedikasinya luar biasa tinggi terhadap tempat kerjanya.

Setiap hari, pukul setengah enam pagi sudah berada di tempat kerja.
Setengah enam pagi! dikala sebagian manusia baru mulai memanaskan mobilnya, atau sedang menunggu di halteu bis kota, atau sedang berdesakan di metromini, atau baru selesai mandi, atau bahkan masih terlelap di selimut nan hangat, Mpok Lea sudah menyapu dan mengepel tempat kerjanya.

Sungguh dedikasi yang luar biasa, padahal jam kerja beliau harusnya dimulai pukul setengah tujuh pagi. Terbayang, jam berapa beliau berangkat dari rumah yang berada di pinggiran Jakarta. Sepertinya sehabis sholat subuh, beliau segera beranjak bekerja. Luar biasa.

Beberapa hari yang lalu, kabar duka tersiar di seluruh pelosok kampus.
Suami Mpok Lea meninggal. Segera, pagi harinya beberapa perwakilan dari kampus beranjak untuk ta'ziah ke tempat beliau di sela kesibukan kampus di hari pertama kuliah.

Tipikal daerah pinggiran kota yang seharusnya membuat penduduk bersahabat, jauh dari gaya metropolitan yang loe-loe, gw-gw.
Namun, apa yang terjadi?
Ketika rombongan kami tersesat tak jauh dari rumah Mpok Lea, dan memutuskan untuk bertanya pada seorang lelaki paruh baya, berkopiah, seperti pulang ta'ziah.
Bertanya, dimana rumah Mpok Lea yang sedang berduka. Lelaki tersebut tampak bingung, tak mengenal orang yang dimaksud dan bertanyalah pada seorang Ibu yang sedang asik memotong rumput di halaman rumahnya.
"Oh, Si Lea, itu rumahnya deket situ. Paling bentar lagi dimakamin (suaminya)" Saut sang Ibu.

Astaghfirullah.....
mungkin kalimat itu yang terucap dalam hati mendengar jawaban ringan si Ibu tadi.
Yup, ternyata memang sudah dekat jarak dari tempat bertanya ke rumah si Mpok. Dan masih dalam jangkauan status "tetangga" dengan si Bapak paruh baya dan si Ibu yang memotong rumput. Segitu cueknya mereka ada tetangga yang meninggal?

Dan, berlanjut saat iring-iringan keranda jenazah untuk dibawa ke pemakaman, rombongan kampus yang tak seberapa rupanya menjadi mayoritas pengantar jenazah.
Jalanan dari rumah menuju pemakaman yang tak seberapa jauhnya, terlihat lengang dan sepi.

Namun, ketika kembali ke rumah, sepanjang perjalanan yang sama, tiba-tiba terlihat Ibu-ibu dan warga lain di depan rumahnya masing-masing dengan kesibukan sehari-hari yang gak penting.

Heeyyyy...
pada kemana tadi ya warga-warga itu ketika rombongan pengantar jenazah lewat???


Astaghfirullah....
Sepertinya tidak ada yang peduli ada tetangganya yang meninggal. Sepertinya, bahkan mereka tidak mengenal siapa tetangganya yang sedang berduka.

Mpok Lea, orang yang berdedikasi tinggi di "mata" tempat kerjanya, ternyata bukan siapa-siapa di lingkungannya. Setiap hari dia berangkat pagi buta, membuatnya tidak dikenal di lingkungannya, dan ketika dia berduka bahkan tak ada yang tahu ada apa.

Astaghfirullah....
Astaghfirullah....
Astaghfirullah....


Inikah cermin diri kita? Berjuang setiap hari untuk perusahaan tempat kita bekerja, dengan tujuan utama untuk menghidupi keluarga, namun dengan terpaksa melupakan bahwa kita adalah bagian dari masyarakat.
Bagian kecil yang seharusnya tetap menjaga keseimbangan.

Inikah cermin diri kita???
Adakah yang peduli saat kita MATI??
Adakah yang mau dengan ikhlas mengantar jenazah kita sampai ke liang kubur?
Atau, adakah yang mau sekedar menyampaikan berita duka kepada orang-orang yang kita kenal, tentang kematian kita???

Astaghfirullah.

Belajar Sukses

Lagi punya beberapa ide, pengen ditulis, tapi kok gak jadi-jadi.... sepertinya semua daya imajinasi sedang tamasya meninggalkan diri gw terbengong-bengong sendiri...

Buka MP berkali-kali tetep gak ada yg bisa ditulis, akhornya cuma blog-walking aja, mbacain blog-blog yg mampir ke inbox


Dan terinspirasi oleh blog temen yg banyak menyarikan cerita-cerita motivasi.
Yah, coba mengumpulkan kata demi kata untuk disusun menjadi kalimat, dan yang terjadi hanya beberapa untaian kalimat ini. Yang penting, ada usaha untuk terus menulis, mengasah otak biar gak jadi dongo.....!


Belajar Sukses....

Ternyata sukses itu bukan hadiah yang turun dari langit
Sukses harus diraih, dengan usaha dan upaya, dan tentu saja dengan sedikit kinerja otak dan hati

Sukses bukan hadiah bagi orang yang hanya bisa berharap, berharap dunia ini akan menjadi lebih baik bagi dirinya
Sukses harus diraih, dengan sedikit keringat, air mata, kepedihan dan keputusasaan yang bisa dikalahkan

Sukses bukan hadiah dari orang-orang yang iba kepada kita
Sukses harus diraih, bukan dengan (hanya) memimpikan, bukan dengan (hanya) memikirikan, tapi dengan melakukan.

Sukses dimulai dari pekerjaan kecil yang bisa kita lakukan sekarang.



Thanks untuk teman-teman yang memberi inspirasi melalui blog-nya.
- Memotivasi Diri Melalui Rasa Percaya Diri
- Kelemahan Terbesar Bisa Menjadi Kekuatan Terbesar
- Tolonglah Diri Anda Sendiri...
- Dan artikel-artikel lain yang dengan tidak mengurangi rasa hormat, tidak dapat disebutkan satu persatu (halah.... kayak sambutan pak RW ajah)



Ayo berbuat, jangan cuma ngomel....

Maaf sebelumnya, judul di atas ditulis bukan mau sok-sokan, bukan mau belagu. Boro-boro belagu, bernyanyi saja sumbang.

Tulisan ini lebih ditujukan buat diri saya sendiri, tapi kalo bisa bermanfaat buat semua orang, ya Alhamdulillah....

Ide nulis ini muncul di taksi dalam perjalanan menuju PIM. Sepanjang perjalanan supir taksi yang cukup meriah ini ngomong berbagai hal, mulai dari macetnya simpang Ampera karena listrik padam, sampai jalan pondok indah yang sudah tidak nyaman lagi karena gak pernah gak macet, ditambah pemandangan kemacetan yang disebabkan acara di suatu rumah pejabat partai di jalan pondok indah tadi. "Belum jadi presiden aja udah nyusahin rakyat, bikin macet jalan"

Mungkin omelan dan ocehan supir taksi tadi hanya secuil cerminan diri kita, (kitaaa... loe kalee...) iya, diri saya deh..... Seringkali "saya" ngomel untuk sesuatu yang sudah jelas gak bisa diselesein masalahnya. Misalnya banjir di Jakarta, kemacetan yang tiap detik melanda, udara panas yang menyengat, bau busuk sampah di jalan masuk kompleks, dst...dst.....

Dan seringnya kita secara nggak sadar (sadar sih..) akhirnya menghujat para pemimpin negri yang gak bener mimpinnya, yang lebih suka korupsi, dan lainnya.....
Dan sialnya lagi, kita sadar sepenuhnya bahwa omelan dan ocehan kita gak guna, gak menyelesaikan masalah, gak mungkin didengar orang-orang yang kita hujat.....

Dari pemikiran tersebut, semakin tersadar bahwa memang sebenarnya mengomel dan mengoceh tentang keadaan yang kita hadapi sehari-hari, tentang perilaku para pejabat negeri adalah hal yang percuma.

Maka muncullah solusi ini, solusi yang lebih ditujukan buat ketenangan diri sendiri, solusi sederhana yang bisa dilakukan dengan mudah, solusi yang mudah-mudahan bisa membuat diri ini lebih santai, lebih bahagia.


Solusi # 1. Berhenti Menghujat
Gak usah lagi menyalahkan dan menghujat pemimpin dan pejabat negri, karena percuma, gak bawa manfaat buat kita dan gak nyelesein masalah.
Gak usah lagi menghujat mereka, karena hanya nambah dosa kita dan malah membantu mengurangi dosa mereka.
Cobalah, apa untungnya? udah cape hati karena ngomel2, kita nambah dosa...eh, mereka malah dikurangi dosanya.



Solusi # 2.
Berbuatlah untuk diri kita sendiri, dari yang terkecil.

Capek ngadepin macet? Ya gak usah jalan. Huhehe... gak mungkin?
Ya mulailah mengurangi mengendarai kendaraan bermotor kita yang secara gak sadar menyumbang tingkat kemacetan di jalan.
Kalo gak jauh, naik sepeda aja, selain hemat, bikin badan jadi sehat.
Gak mungkin juga? ya berangkatlah pagi-pagi sekali, kalo perlu abis subuh, sambil menghirup udara pagi yang (mudah-mudahan) masih segar, jalanan pun masih agak lengang.
Gak mungkin juga? Bikin kantor atau usaha di rumah aja deh.
Gak mungkin juga? Ya udah hadapi aja, tanpa ngomel tentunya.



Solusi # 3. Peduli Lingkungan
Lingkungan bersih hidup kita nyaman.
Mulailah peduli sama lingkungan kita, mulai singkirin rasa malu untuk mungut sampah yang berserakan dan mindahin ke tempat yang bener.
(Jujur, ini agak sulit.... tapi ya gak ada salahnya dicoba kan?)



Solusi # 4. Peduli Negri. Berantas Korupsi!

Hahaha..... Omong Kosong!!!!
Yup, betul, gak mungkin lah kita berantas korupsi, toh kita juga gak bisa jamin kan kalo KPK bebas korupsi??? Lupakanlah....

Tapi,  eitt.... masih ada tapi. Minimal kita bisa berusaha untuk  mengurangi korupsi di masa depan.
Mari kita didik dan bina anak-anak kita dengan benar, dengan pendidikan tinggi yang benar, dengan rezeki yang halal.
Ini penting, gimana kita bisa ngomong kejujuran kalo ngasih makan anak kita dari uang korupsi, dari uang gak jujur? Bagaimana anak kita bisa belajar kejujuran kalo di dalam daging dan darahnya mengalir rezeki yang gak halal. (Maaf sekali lagi, bukan sok ceramah, lagian saya bukan ustadz).
Mari kita didik anak kita dengan hidup sederhana, bukan berarti harus selalu makan seadanya, maksudnya bagaimana anak kita bisa tahu diri nantinya, bisa ngukur antara kebutuhan dan kemampuan. Jadi kalo ntar anak kita gak bisa memenuhi keinginannya, gak kepikiran untuk korupsi. Kecuali kita bisa menjamin anak kita bisa hidup makmur dengan warisan yang siap kita kucurkan.



Solusi # 5. Mari Berdoa
Buat yang suka berdoa, mari kita tambahkan doa kita untuk kebahagian kita, lingkungan kita dan negara kita. Semoga negri kita masih terus diberkati dan dirahmati-Nya.
Mati titipkan doa agar para pemimpin dan pejabat negri ini jadi bener mimpinnya.
Tidak. Saya tidak meminta/ mengajak untuk berdoa agar Tuhan mengampuni dosa dan kebejadan mereka. Tidak, bukan itu. Saya cuma ngajak berdoa agar mereka jadi sadar akan tugas dan tanggung-jawabnya pada negri ini. Itu aja.




Yah itu cuma sekedar solusi yang bisa saya tawarkan untuk memperbaiki negri ini, negri Indonesia yang saya cinta dan banggakan. Karena saya sadar, yang berengsek, yang rusak, yang gak bisa dibanggain bukan Indonesianya, tapi ya orang-orangnya (dan mungkin termasuk saya).

Mudah-mudahan.

Sukses itu...

Menurut gw....

Sukses itu.....

bukan memiliki penghasilan puluhan juta...

bukan memiliki rumah ratusan meter persegi...

bukan memiliki mobil ribuan cc

bukan memiliki gelar bertingkat-tingkat

bukan memiliki fasilitas nomor wahid

menurut gw,

sukses itu....

bisa mensyukuri dan menikmati apa yang kita miliki, apapun itu.

bisa mengamalkan apa yg bisa kita amalkan dan bermanfaat buat orang lain.

yup, sesederhana itu.

(gw pernah baca artikel, lupa siapa yg nulis, intinya, "kekayaan kita bukanlah apa saja yang kita miliki, tetapi apa yang bisa kita nikmati".)


ditulis ulang dari http://dendidendi.multiply.com (22 Desember 2007)